Submitted by admin on Sun, 10/31/2010 - 06:31
pepatah jadul, ujan uang di negeri orang, ujan air di negeri sendiri.
pepatah multi tafsir
kalo bisa milih. gw milih ujan duit. mo kata di negeri orang emang gw pikirin. biar kata jalan kaki trus berenang dijabanin dah.. :P :P kalo dapet duit sebukit lembaran dolar bisa langsung beli yacht ... :P
******
laporan main mata ujan debu yogya
*******
setelah seharian kemarin mengisolir diri bersama anak2 di rumah. pagi ini saya keluar rumah juga.
pasca erupsi Merapi yang disertai dentuman dan hujan pasir di dini hari, sabtu 30 Oktober 2010, ternyata masih ada agenda hujan debu melanda sebagian yogya.
setelah melihat tayangan berita hujan pasir mencapai kawasan kota baru (anak ke2 saya sekolah di kotabaru itu), saya putuskan anak2 saya tidak masuk sekolah dulu hari sabtu itu. (dan tadi pagi info dari teman) sekolah2 di kawasan tengah ke barat di liburkan.
ya... kemarin benar2 mengisolir diri. bahkan saya tdk jadi ke pasar. setelah melihat pekarangan belakang dan daun2 pohon mangga rata tertutup debu yang tebal. langsung putuskan tutup semua ventilasi. anak2 yg diisolir di kamar.
hanya anak sulung saya yang keluar untuk agenda nge-jam bareng guru musiknya di sore hari, lokasi yg tdk terlalu jauh dari rumah.
06.00 pagi ini saya berangkat pagi. mengantar anak saya ujicoba UASBN sekalian saya mampir pasar.
lengkap dengan "kostum astronot", kami keluar. di jalan depan rumah, terlihat kumuh... sisa debu Merapi yang terguyur hujan beberapa kali kemarin dan semalam. masuk ke jalan raya tak jauh beda. sisa debu semakin banyak di jalan lingkar barat. tak terbayang seperti apa kemarin pagi. sebelum hujan turun mengguyur.
tampak pemandangan yang sama, debu yang mengumpul di sepanjang pinggir jalan.
masih agak basah. terlintas bayangan jika nanti matahari terik maka debu2 itu berterbangan.
timbunan debu di pinggir jalan itu, hingga ke timur kawasan kotabaru, tepatnya sekitaran sma bopkri I, barat duta wacana. sdh lebih bersih, bahkan di pengok semakin tak tampak terlebih memasuki kawsan gendeng, sapen... tidak ada tanda2 ujan debu.
setiba di sekolah anak saya, sempat ngobrol sejenak dengan teman. dari teman itu dapat info bahwa kawasan kalasan bersih dari hujan debu. angin bertiup ke arah barat dan selatan. dari sebuah situs diberitakan hujan debu hingga wilayah bantul.
bapak yang kerja di dirjen postel itu sempat bercerita sedikit suasana malam letusan itu. dimana beliau sendiri 3 malam menginap di sana.
usai bersapa itu saya langsung meninggalkan sekolah anak saya. mesti ragu, saya putuskan ke pasar paginya UGM (sekarang sudah dipindah, lebih masuk ke timur. di utara UNY. bagus deh tdk bikin macet. weet ambigu ne saya).
Kawasan UGM ini masuk belahan Utara kota yogya.
suasana pasar tiban UGM sudah berubah. masuk dari selatan dibuka dengan deretan lapak2 kain dan pakaian. dengan jalan yang agak sempit hanya sekali papasan dengan mobil.
orang2 mestinya lebih sedikit. tapi tetap terasa sesak dengan lebar jalan yg lebih kecil.
tujuan saya memang cari makanan. penjual penganan dari ketan ala minang, cuma jual di sana di hari minggu.
tidak dapat warung yang saya cari... saya putuskan beli nasi kuning saja. berhenti dan parkir di warung pertama saya batal membeli, karena makanannya terbuka. saya membeli di warung lainnya.
lanjut perjalanan. pulang. mampir pasar. pasar di lokasi dekat rumah (barat). suasana pasar pun lebih tak nyaman dari biasanya.
jam 10.00 saya kembali jemput anak saya. benar yang saya pikirkan tadi. meski udara masih mendung. debu2 di jalan beterbangan. apalagi jika terlindas ban kendaraan yang mepet pinggir jalan.
so keluar lah dengan "pakaian wajib". jaket, masker dan topi/ kalo perlu helm... hehehe
**************
saya tidak tahu, apa saya yang paranoid... atau apa...
melihat debu di pekarangan belakang rumah saya langsung tutup rapat ventilasi dan meminimalisir bukaan pintu. dan mengisolir anak2 saya di kamar. di kepala saya cuma satu, debu itu sangat halus. dan itu debu yang baru saja dimuntahkan merapi. entah partikel apa saja yang dibawanya.
pemandangan yang saya temui di perjalanan tadi.
di jalan pengendara motor banyak yg tak bermasker.
bahkan beberapa orang melakukan jalan pagi tanpa masker.
di pasar tiban, beberapa orang pakai masker tapi lebih banyak yang tidak. termasuk anak2 tidak ada yang pakai masker. bahkan ada seorang bapak (perkiraan sy) muda dari penampilannya mestinya terpelajar. menggendong bayi. memakai gendongan ransel. keduanya tanpa masker... HOHO ini wilayah utara loh... lebih dekat ke Merapi . dan memang debu tampak banyak di sana.
semoga tidak ada sosialisasi yg tertinggal. tentang bahaya debu Merapi.
mengapa pemkot/pemkab (bahkan pemda) terkesan tidak serius memerintahkan PU menggelontorkan air menyapu debu2 tersebut (entah gimana caranya). Setidaknya kemarin saya sempat menjumpai truk tanki air menyiram debu2 di beberapa ruas jalan, namun mengapa hari ini masih banyak jalan di wilayah kota yang masih nyata sisa debunya. jika melihat di rumah saya, mestinya tidak terjadi ujan debu ulangan sepanjang kemarin dan semalam.
di dekat rumah, di jalan raya sudah di lakukan menyiram debu ke saluran2 air. meski cara ini mungkin akan membuat penuh gorong2....
entahlah ....
yo kita kerja bakti..... setidaknya selamatkan diri masing2 tanpa membahayakan orang lain...
yap siap2 menyiram dg air debu2 di depan rumah... yuuk Mareeee
