Powered by Drupal, an open source content management system

Sepenggal Cerita tak Tuntas

Ada yang menggelisahkannya. Malam telah larut. Matanya tak jua mau diajak berkawan dengan tubuhnya yang lelah. ia tahu segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali

segalanya masih terasa sama dalam kenangannya.

Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas dada. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan malu-malu.

“kelak aku akan tuliskan kisah kita. Aku akan jadikan cerpen”

“aku tidak mau. Aku tidak mau kisah kita ‘ke bagikan ke org lain”

“kisah ini hanya milik kita”

Saat sentuhan di jari kelingking disimpannya. Dan teringat hingga hari ini.

Rasanya memang tidak turut serta. Tapi ia mengingat bahwa ia menikmatinya, sepulangnya. Bahkan bertahun-tahun kemudian

Sumber Inspirasi :
Djenar Maesa Ayu dan Agus Noor, 2010, Kunang-kunang dalam Bir, Cerpen KOMPAS, Jakarta

Who's online

There are currently 0 users and 1 guest online.

Counter

  • Unique Visitor: 3,043
  • Your IP: 38.107.179.232
  • Visitors:
  • Today: 49
    This week: 327
    This month: 1045
    This year: 9902