Submitted by admin on Fri, 11/12/2010 - 03:48
Abu vulkanik yang tersebar luas akibat letusan Gunung Merapi berpotensi membahayakan kesehatan. Tingginya konsentrat abu vulkanik bisa memicu berbagai penyakit pernapasan hingga kanker. Masyarakat diimbau untuk terus menggunakan masker selama udara masih mengandung abu vulkanik.
Menurut dokter dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Bambang Sigit, beberapa korban yang dirawat inap akibat debu vulkanik adalah mereka yang menghirup debu sangat pekat. "Mereka umumnya tinggal di permukiman yang dekat dengan puncak Gunung Merapi. Jika konsentratnya tinggi bisa timbulkan radang paru-paru yang mematikan," ujar Bambang, Senin (8/11/2010).
Abu vulkanik juga bisa memicu munculnya penyakit pernapasan kambuhan, seperti asma atau sesak napas. Warga di wilayah Kota Yogyakarta hanya mengeluhkan beberapa penyakit pernapasan ringan akibat debu vulkanik seperti batuk. Beberapa gas berbahaya yang terkandung dalam abu vulkanik, antara lain, sulfur dioksida dan karbon monoksida.
Partikel lain yang terkandung di abu vulkanik adalah silika. Silika yang merupakan komponen penyusun kaca ini bisa bersifat karsigonik dan bisa menimbulkan penyakit kanker. "Ini berdasarkan hasil studi di bidang industri. Hingga kini belum ada penelitian dampak jangka panjang abu vulkanik terhadap kesehatan," tambahnya.
Untuk menghindari beragam penyakit, warga diimbau menggunakan masker berjenis N 95 yang berbahan kain dan lebih rapat. "Masker bedah berwarna kehijauan yang saat ini banyak digunakan masyarakat bisa menjadi pilihan dengan harga lebih murah. Masker harus digunakan ketika abu vulkanik bertebaran di udara," kata Bambang.
Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Tonny Agus Wijaya, partikel abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi cenderung tersebar merata karena tertiup angin. Partikel ini bisa menutupi sinar matahari sehingga berdampak pada perubahan cuaca.
Inilah serangan dan tips untuk mencegahnya:
Pernapasan
Gejala pernapasan akut sering dilaporkan oleh orang-orang yang terpapar abu vulkanik. Biasanya beberapa keluhan ini yang muncul.
- Iritasi hidung dan hidung meler.
- Iritasi tenggorokan dan sakit tenggorokan, kadang disertai dengan batuk kering.
- Penderita bronkitis atau asma biasanya terserang batuk, produksi dahak bertambah, atau sesak napas.
- Gangguan napas menjadi tidak nyaman.
Mata
Indra penglihatan biasanya juga terserang. Karena abu vulkanik yang kasar, orang biasanya mengalami ketidaknyamanan mata atau iritasi selama terpapar abu. Berikut ini keluhan yang sering muncul.
- Mata kelilipan.
- Mata gatal atau merah.
- Kornea lecet atau tergores.
- Peradangan kantong yang mengelilingi bola mata karena terkena abu, yang memerah, sehingga mata terasa pedih dan sensitif terhadap cahaya.
- Penderita mata kering biasanya merasa matanya menjadi semakin kering.
Selain mata dan pernapasan, kulit bisa terkena iritasi.
Mencegah Serangan Si Abu
- Pakailah pakaian pelindung dan masker debu efisiensi tinggi.
- Jika tidak ada masker yang sesuai, pakailah masker kain. Bisa menggunakan sapu tangan, kain, atau pakaian yang dapat menyaring partikel abu yang lebih besar. Untuk meningkatkan fungsi penyaringan, rendamlah kain dengan air.
- Pakailah kacamata, tapi bukan kacamata gelap. Pakailah kacamata yang bening karena jarak pandang berkurang.
- Pasien dengan bronkitis kronis, emfisema, dan asma disarankan tinggal di dalam rumah serta menghindari paparan abu.
- Seringlah minum air putih.
- Tutup rapat segala makanan/minuman agar tak terpapar abu.
- Berhati-hatilah jika melakukan perjalanan karena jarak pandang yang pendek bisa menyebabkan rawan kecelakaan.
Anak-anak juga perlu diperhatikan. Berikut ini tip bagi anak-anak.
- Jauhkan anak-anak dari paparan abu.
- Kurangilah aktivitas anak karena aktivitas yang berat akan menguras napas. Sementara itu, udara yang pekat menyebabkan anak kesulitan bernapas.
- Jika anak harus berada di luar rumah, bekali mereka masker yang daya saringnya kuat.
- Sering membersihkan interior rumah tempat anak bermain akan meminimalkan jumlah paparan abu di dalam rumah.
Sumber :
http://regional.kompas.com/read/2010/11/08/20420574/Abu.Vulkanik.Bahayak...
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/11/06/brk,20101106-2898...
