Submitted by admin on Fri, 10/29/2010 - 13:55

pantaskah berdoa untuk tidak ada gunung meletus? tidak ada gempa?
tidakkah letusan gunung dan gempa adalah siklus bumi?
gempa dan letusan vulkanis adalah pelepasan energi bumi secara reguler.
tidak terbayang seperti apa dahsyatnya ledakan dan dampaknya jika bumi tidak memiliki mekanisme pelepasan 'perlahan' dr energi alam. sementara energi alam terus dihasilkan sebagai konsekuensi aktivitas di perut bumi.
bumi yg memberi hasil tani, kebun, barang tambang...
sisa letusan vulkanis yang menyuburkan tanah sekitarnya dll.
tidakkah lebih bijak meminta diberi terang ilmu agar dapat bersahabat dengan alam?
bahwa seluruh ekspresi, aktivitas alam tidak mengakibatkan kerugian dan jatuh korban (utamanya) manusia.
alam tetap dengan tabiatnya, tetap setia pada siklusnya.
saya ingat pernyataan Dr.SURONO Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bahwa temperatur awan panas 600-800 derajat (celcius) dg kecepatan 200-300(km/jam).
Tidak ada rumus lain menghadapinya kecuali menghindar.
saya meyakini peristiwa alam adalah ujian untuk manusia. ujian untuk mau menjadi sholeh atau tidak?
jika ada korban ada bencana karena alam dikatakan sebagai hukuman...
jangan saja ada yang pongah, merasa dirinya lebih suci dari para korban.
bersyukurlah bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki diri.
*lagi bete ... saya merasa terusik statemen bencana karena alam adalah adzab bagi kaum (di lokasi bencana)
Adanya korban karena tsunami di Mentawai adalah
akibat kesalahan perhitungan manusia (seperti ramai diributkan saat ini).
apa yang mau dikatakan?

